Memang Tuhan sudah membuat skenario kehidupan jauh sebelum
kita lahir, tinggal kita berperan menjalaninya. Ntahlah, aku takut ketika harus
melihat kamu berperan menjadi seorang pesakitan, orang yang lemah, merasakan
sakit yang hanya kamu sendiri yang dapat merasakan. Aku benci ketika melihat
kamu sakit. Seperti aku juga merasakannya.
Aku hanya bisa berharap, memohon dan berdoa disetiap
malamku, di awal pagiku. Kamu akan baik baik saja, Tuhan akan lekas mengganti
peranmu dengan peran yang lebih baik.
Aku harap Tuhan akan mengganti kecemasan ini dengan segaris
senyum kelak, Dia akan memasukkan kita kedalam daftar pemeran yang hidupnya
dipenuhi kebahagiaan. Menyelinap diantara mereka. Mencoba mengubur semua rasa
sakit dan kesedihan, mencoba mencari cari celah kebahagiaan.
Aku ingin melihat senyummu disetiap pagiku. Bahagia, bukan
sakit dan sedih yang ku dapatkan. Bukan senyum getir yang terlihat disana.
Bukan sinar mata yang lelah pula.
Kita sama sama mencari sebutir kebahagiaan diantara getirnya
senyuman. Hatipun serta merta memintakan, agar lekas lepas dari peran ini.
mengganti suasana mencekam dengan kebahagiaan.
Lagi lagi bahagia. Ya, memang bahagia yang ingin ku dapat
dari senyummu, bukan kegetiran hidup, kepahitan dan segala macam rasa sekarang
ini.
Kita punya banyak mimpi yang pernah saling kita ucapkan,
mimpi yang pernah kita tulis bersama. Berjanjilah untuk membuat itu nyata.
Lawan rasa sakitmu, jangan pernah merasa kepahitan itu milikmu sendiri.
Ada aku disini yang juga ikut merasakannya. Tuhan mengirimku kepadamu untuk
turut merasakannya, getir, pahit, sedih, kita jalani ini bersama. Buruk memang
jika diurai satu persatu. Tapi jangan pernah takut untuk melangkahkan kakimu.
Akan ku genggam jemarimu dan semua rasa kepahitan itu, kita akan berjalan
bersama, beriringan.
Jalan kita masih panjang, masih banyak skenario yang harus
kita mainkan dengan berbagai macam peran yang lain. Percayalah ini akan segera
berakhir. Aku akan mengunjungi Tuhan disetiap malam untukmu. Meminta memohon
dan menengadah kepadaNya. Doa itu akan sering Tuhan dengar, berharap ini akan
segera diwujudkannya, bukan dalam mimpi, tapi nyata. Bukan sejenak, tapi untuk
selamanya.
Komentar
Posting Komentar