Langsung ke konten utama

CATATAN AKHIR SEKOLAH #1

Jarum pendek jam dinding kamar tepat berada di pukul 05.00 pagi. Ku buka mata perlahan, masih terasa sakit yang menyeluruh di kepalaku. aku lupa apa yang terjadi kemarin sore saat aku pulang sekolah, tiba-tiba saja aku sudah berada di kamarku. setelah beberapa menit aku menahan nyeri di kepalaku, rasa sakit itupun sedikit-sedikit mulai menghilang, aku tahu mungkin akan datang lagi sakit itu. Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi, ku bersihkan diri dengan air hangat. Darah ku seperti mengalir dari atas kepala menuju kaki saat air itu mengenai seluruh kepalaku.
Ku ambil seragam putih abu-abu itu yang telah tergantung di tempat biasa aku menanggalkan seragam-seragam ku. segera ku tarik tas dari atas meja tapi secarik kertas berwarna merah muda jatuh dari atas tas. Kertas itu bertuliskan “Happy Valentine Day Ara”. aku kenal dengan tulisan tangan itu! Deff, itu pasti Deff!. Dari dalam tas, ada sekotak kado yang dipenuhi dengan warna merah muda. Ku buka bingkisan kado itu,  “kotak musik! Deff memberiku kotak musik!” pipiku terlihat mulai mengembang. Deff memang hanya sebatas teman biasa, tapi aku rasa  kita tak pantas disebut sebagai ‘teman’, karna kami memang terlalu dekat sebagai teman. Aku merasa sangat nyaman didekatnya.
“Ra, udah selesai? Sarapan sama minum obat dulu, jangan langsung berangkat” terdengar suara ibu dari luar kamar membuyarkan lamunanku tentang Deff, ibu memang selalu mengatur jadwal makan dan minum obatku.. “Iya bu, bentar lagi” segera ku simpan kertas dan kotak merah muda itu di laci meja. Aku melangkah keluar kamar tapi tiba-tiba terdengar suara motor matic yang berhenti didepan rumah. “Deff??” gumamku. Aku bisa tahu jelas suara motor Deff. Aku berlari ke ruang tamu untuk memastikan itu Deff. Ternyata benar Deff. Selepas makan dan meminum obat, aku segera berpamitan untuk berangkat.
Aku dan Deff pun berangkat bersama. Di setiap jalan yang kami lewati, pipi ku selalu mengembangkan senyuman. “Deff, makasih ya kemaren kamu udah mau tolongin aku, ehhm makasih juga kado dari kamu”
“yaa kita kan memang harusnya saling bantu Ra, masa’ ya aku tega lihat kamu pingsan di jalan. iya Ra, aku sengaja beli itu buat kamu” kata Deff dengan senyum manisnya yang dapat terlihat jelas dari kaca spion motor. Aku melihat senyum tulus Deff, aku ikut tersenyum, bukan karna ucapan Deff tadi, tapi karena aku bersyukur masih dapat melihat senyum manis Deff.
Tuhan, aku harap waktu ini juga dapat ku hentikan, aku ingin saat-saat seperti ini terus berlanjut Tuhan, sebelum aku tak bisa merasakan ini lagi, biarkan dia tetap disini, tetap bersama ku’ kata ku dalam hati. Aku memang tak berani menyampaikan apa yang harusnya ku sampaikan kepada Deff, aku takut dia malah akan menjauhiku. Aku hanya dapat berdoa untuknya dan tetap menunggu senyumannya walaupun dalam keadaan seperti ini.
Sampai di parkiran motor sekolah ..
“Ra, kamu kenapa ? kok diam? Oh iya, nanti pulang bareng ya?”
“Ehh Deff aku baik-baik aja kok. Boleh”
Aku dan Deff berjalan berlawanan arah, kelas ku dan Deff memang berbeda, dia setingkat lebih tinggi daripada aku.
***

Malam ini, hujan turun lagi seperi malam-malam yang kemarin. Bisa ku rasa dingin air hujan itu. Tanpa sadar, memori otakku kembali mengingat kejadian tadi sore saat aku dan Deff pulang sekolah dengan menerjang hujan, Deff rela hujan-hujanan untuk menemaniku dan mengantarku pulang. Seperti biasa mulai ku buka buku merah muda yang setiap malam menemaniku, ku tulis apa yang ingin ku tuliskan.
Mungkin aku tak punya kata-kata indah yang bisa ku sampaikan untukmu, sang dewa cinta. Aku memang tak pandai merangkai kata-demi kata untukmu. Tapi semoga kelak kau tahu, aku tak ingin kita berpisah, aku tak ingin kita terpisahkan ruang dan waktu, ruang yang dimana sebuah perbedaan tak dapat disatukan lagi dan dimensi waktu yang telah berbeda. Biarkan aku tetap bersamamu, menuliskan kisah kita.
Sang cinta, aku harap kau juga merasa apa yang ku rasakan padamu.
Aku mencintaimu Deff.
Aku merasakan sesak yang memenuhi rongga dadaku, sesak karena perasaanku untuknya yang selalu ingin menyeruak keluar namun ku tahan. ku tutup buku merah muda yang penuh dengan coretan namanya. Sesaat kemudian aku terlelap dengan ditemani rintik hujan yang sedari sore masih terus mengalir dari atas awan sana.

Komentar

  1. Fighting 😉. I will always support you. Never give up! Ok 😃

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NO BODY’S PERFECT

Hari ini, aku mendapat satu pelajaran berharga lagi. Sebuah perlajaran yang tak bisa di dapat ketika kita tak mau bergaul dengan orang lain. karena ketika bergaul dengan lingkungan sosial maka kita akan tahu pendapat orang lain mengenai diri kita. Kita tak mungkin bisa menilai diri kita sendiri secara sempurna. Dengan penilaian dari orang lain maka kita bisa memperbaiki diri kita, setidaknya bisa sedikit meminimalisir. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya. Namun, dibalik yang katanya “sempurna” itu selalu saja ada yang namanya kekurangan. Baik itu fisik maupun psikis. Meskipun dengan banyaknya kekurangan yang ada didalam diri seseorang, tidak seharusnya kita mencela kekurangan orang lain tersebut, terlebih yang berhubungan dengan fisiknya. Manusia itu mahluk ciptaan Allah, ia adalah sebaik-baiknya ciptaanNya. Akal, pikiran, bahkan nafsu. Sesempurna itu. Tapi jika kita mencela orang lain dengan fisiknya yang gendut misal, atau dengan ke...

Beda Logat yang Bikin Galau

Mungkin pengalaman seperti ini sering sekali, bahkan hampir semua Mahasiswa rantau yang berkuliah ditempat jauh mengalaminya. Mahasiswa rantau harus beradaptasi dengan berbagai hal baru yang ada ditempat tinggal baru tersebut. Contohnya saja seperti adaptasi dengan lingkungan, adat, bahasa maupun logat, dll. Banyak pengalaman baru yang akan didapat dari tempat perantauan. Tempat perjuangan hingga akhirnya bisa mendapat gelar dibelakang nama. Nyatanya tak semudah yang dibayangkan ketika harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru. Berdasarkan pengalaman pribadi, mungkin ini juga yang dirasakan oleh Mahasiswa perantau lainnya. Bahasa saya dengan bahasa mereka, anak anak asli kota rantau sama sama dengan bahasa jawa, hanya saja logat kami berbeda. Tak hanya logat, ternyata banyak kosa kata dari mereka yang tidak saya ketahui bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya, sehingga mau tidak mau harus bertanya Apa artinya kata ini? Apakah ini kata kata kasar? Tak jarang banyak dari...