Mungkin pengalaman seperti ini sering sekali, bahkan hampir semua Mahasiswa rantau yang berkuliah ditempat jauh mengalaminya. Mahasiswa rantau harus beradaptasi dengan berbagai hal baru yang ada ditempat tinggal baru tersebut. Contohnya saja seperti adaptasi dengan lingkungan, adat, bahasa maupun logat, dll.
Banyak pengalaman baru yang akan didapat dari tempat perantauan. Tempat perjuangan hingga akhirnya bisa mendapat gelar dibelakang nama. Nyatanya tak semudah yang dibayangkan ketika harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi, mungkin ini juga yang dirasakan oleh Mahasiswa perantau lainnya. Bahasa saya dengan bahasa mereka, anak anak asli kota rantau sama sama dengan bahasa jawa, hanya saja logat kami berbeda. Tak hanya logat, ternyata banyak kosa kata dari mereka yang tidak saya ketahui bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya, sehingga mau tidak mau harus bertanya Apa artinya kata ini? Apakah ini kata kata kasar?
Tak jarang banyak dari kawan kawan yang iseng menjerumuskan dengan kosa kata yang maknanya kasar, sehingga perlu hati hati dengan ucapan yang kadang terlontar karena ikut ikutan bahasanya orang sini.
Rasanya sulit ketika harus beradaptasi dengan berbagaimacam kosa kata baru. Terlebih jika bahasa yang digunakan ternyata termasuk dalam konotasi kasar. Beruntung jika memiliki translator ataupun kawan yang berbaik hati menjawab maupun memberitahu arti dari kosa kata tersebut. Setidaknya sedikit membantu dalam beradaptasi.
Pernah suatu hari, waktu itu masih jamannya menjadi Mahasiswa Baru. Kebetulan rumah depan kost dihuni oleh sepasang mbah kakung dan mbah putri. Ketika pulang dari kampus, seperti biasa melewati rumah mbah tersebut. Merasa masih baru, jadilah senyum & mencoba menyapa sedikit, sebagai bentuk menghormati yang lebih tua. Nahh si mbah nya nanya, ntahlah mbah itu menanyakan apa. Merasa bingung dengan pertanyaan & tidak tahu harus menjawab apa, dengan polos wajah tanpa dosa, saya berlari meninggalkan mbah tadi dengan berbagaimacam pertanyaan yang terlontar. Ada rasa kesal, malu, bingung, campur aduk menjadi satu. Kesal kenapa harus pulang sendirian, kalau saja pulang dengan teman satu kost mungkin lebih enakan jika ada warga yang sekedar bertanya. Malu karena berpikir bodohnya diri ini berlari begitu saja meninggalkan orang yang lebih tua padahal posisi sudah terjebak dengan pertanyaan mbah tadi. Bingung karena sejujurnya tidak tahu apa maksud dari pertanyaan mbah tadi.
Pengalaman lain pun sama, masih sama sama tentang bahasa. Kebetulan saya masuk dikelas yang rata rata berasal dari wilayah sekitaran kota sini. Ada satu teman wanita, yang menurut saya ucapannya kasar. Meskipun tidak tahu arti artinya, tapi jika dilihat dari segi penuturan dsb sering sekali ucapan kasar itu terlontar. Baik digrup chat whatssapp maupun dikelas. Satu teman yang sudah saya blacklist (tidak mengambil pelajaran darinya), yang jika dilihat lihat bahasa yang digunakan begitu kasar.
Gampang gampang susah ketika harus berpindah dari daerah pantai menuju daerah yang dikelilingi gunung. Dari bahasa jawa yang biasa biasa saja menjadi bahasa jawa yang kasar, baik logat maupun penuturannya.
Sebenarnya kami terlebih saya hanya butuh dibantu ketika kesulitan mencerna ataupun kesulitan menemukan arti dari kosa kata bahasa daerah setempat. Bukannya tak mau belajar, kami butuh proses. Bukan malah dibully karena tidak tahu menahu tentang bahasa daerah masyarakat sini. Mungkin bahasa kasar terdengar seperi biasa ditelinga masyarakat sini, tapi jika perantau lain yang mendengar mungkin itu terdengar begitu kasar sehingga kadang menyebabkan miss komunikasi. Penyebab pertikaian terbesar yaitu terletak pada komunikasi. Jika komunikasi lancar, konflik akibat komunikasi dapat sedikit diminimalisir. Sedangkan jika terjadi banyak miss komunikasi seperti berbeda logat dan bahasa, akan banyak menimbulkan pertikaian.
Semoga kalian para mahasiswa asli bisa sedikit memahami kami, mahasiswa rantau yang masih perlu belajar dan beradaptasi dengan bahasa kalian. Tolong keluarkan bahasa terbaik kalian agar kami bisa mencerna kata kata baru yang kami dapatkan dari tanah rantau.
Salam Perantau, Mahasiswa Pantai Utara
Banyak pengalaman baru yang akan didapat dari tempat perantauan. Tempat perjuangan hingga akhirnya bisa mendapat gelar dibelakang nama. Nyatanya tak semudah yang dibayangkan ketika harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi, mungkin ini juga yang dirasakan oleh Mahasiswa perantau lainnya. Bahasa saya dengan bahasa mereka, anak anak asli kota rantau sama sama dengan bahasa jawa, hanya saja logat kami berbeda. Tak hanya logat, ternyata banyak kosa kata dari mereka yang tidak saya ketahui bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya, sehingga mau tidak mau harus bertanya Apa artinya kata ini? Apakah ini kata kata kasar?
Tak jarang banyak dari kawan kawan yang iseng menjerumuskan dengan kosa kata yang maknanya kasar, sehingga perlu hati hati dengan ucapan yang kadang terlontar karena ikut ikutan bahasanya orang sini.
Rasanya sulit ketika harus beradaptasi dengan berbagaimacam kosa kata baru. Terlebih jika bahasa yang digunakan ternyata termasuk dalam konotasi kasar. Beruntung jika memiliki translator ataupun kawan yang berbaik hati menjawab maupun memberitahu arti dari kosa kata tersebut. Setidaknya sedikit membantu dalam beradaptasi.
Pernah suatu hari, waktu itu masih jamannya menjadi Mahasiswa Baru. Kebetulan rumah depan kost dihuni oleh sepasang mbah kakung dan mbah putri. Ketika pulang dari kampus, seperti biasa melewati rumah mbah tersebut. Merasa masih baru, jadilah senyum & mencoba menyapa sedikit, sebagai bentuk menghormati yang lebih tua. Nahh si mbah nya nanya, ntahlah mbah itu menanyakan apa. Merasa bingung dengan pertanyaan & tidak tahu harus menjawab apa, dengan polos wajah tanpa dosa, saya berlari meninggalkan mbah tadi dengan berbagaimacam pertanyaan yang terlontar. Ada rasa kesal, malu, bingung, campur aduk menjadi satu. Kesal kenapa harus pulang sendirian, kalau saja pulang dengan teman satu kost mungkin lebih enakan jika ada warga yang sekedar bertanya. Malu karena berpikir bodohnya diri ini berlari begitu saja meninggalkan orang yang lebih tua padahal posisi sudah terjebak dengan pertanyaan mbah tadi. Bingung karena sejujurnya tidak tahu apa maksud dari pertanyaan mbah tadi.
Pengalaman lain pun sama, masih sama sama tentang bahasa. Kebetulan saya masuk dikelas yang rata rata berasal dari wilayah sekitaran kota sini. Ada satu teman wanita, yang menurut saya ucapannya kasar. Meskipun tidak tahu arti artinya, tapi jika dilihat dari segi penuturan dsb sering sekali ucapan kasar itu terlontar. Baik digrup chat whatssapp maupun dikelas. Satu teman yang sudah saya blacklist (tidak mengambil pelajaran darinya), yang jika dilihat lihat bahasa yang digunakan begitu kasar.
Gampang gampang susah ketika harus berpindah dari daerah pantai menuju daerah yang dikelilingi gunung. Dari bahasa jawa yang biasa biasa saja menjadi bahasa jawa yang kasar, baik logat maupun penuturannya.
Sebenarnya kami terlebih saya hanya butuh dibantu ketika kesulitan mencerna ataupun kesulitan menemukan arti dari kosa kata bahasa daerah setempat. Bukannya tak mau belajar, kami butuh proses. Bukan malah dibully karena tidak tahu menahu tentang bahasa daerah masyarakat sini. Mungkin bahasa kasar terdengar seperi biasa ditelinga masyarakat sini, tapi jika perantau lain yang mendengar mungkin itu terdengar begitu kasar sehingga kadang menyebabkan miss komunikasi. Penyebab pertikaian terbesar yaitu terletak pada komunikasi. Jika komunikasi lancar, konflik akibat komunikasi dapat sedikit diminimalisir. Sedangkan jika terjadi banyak miss komunikasi seperti berbeda logat dan bahasa, akan banyak menimbulkan pertikaian.
Semoga kalian para mahasiswa asli bisa sedikit memahami kami, mahasiswa rantau yang masih perlu belajar dan beradaptasi dengan bahasa kalian. Tolong keluarkan bahasa terbaik kalian agar kami bisa mencerna kata kata baru yang kami dapatkan dari tanah rantau.
Salam Perantau, Mahasiswa Pantai Utara
Komentar
Posting Komentar