Langsung ke konten utama

NO BODY’S PERFECT



Hari ini, aku mendapat satu pelajaran berharga lagi. Sebuah perlajaran yang tak bisa di dapat ketika kita tak mau bergaul dengan orang lain. karena ketika bergaul dengan lingkungan sosial maka kita akan tahu pendapat orang lain mengenai diri kita. Kita tak mungkin bisa menilai diri kita sendiri secara sempurna. Dengan penilaian dari orang lain maka kita bisa memperbaiki diri kita, setidaknya bisa sedikit meminimalisir.
Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya. Namun, dibalik yang katanya “sempurna” itu selalu saja ada yang namanya kekurangan. Baik itu fisik maupun psikis. Meskipun dengan banyaknya kekurangan yang ada didalam diri seseorang, tidak seharusnya kita mencela kekurangan orang lain tersebut, terlebih yang berhubungan dengan fisiknya. Manusia itu mahluk ciptaan Allah, ia adalah sebaik-baiknya ciptaanNya. Akal, pikiran, bahkan nafsu. Sesempurna itu. Tapi jika kita mencela orang lain dengan fisiknya yang gendut misal, atau dengan kecerdasannya yang dibawah teman temannya yang lain, apa kita kira Allah tak akan marah? Dengan begitu mudahnya melontarkan kata kata celaan yang seringkali berbalut canda agar tak sedikit menyinggung. Ya tak apa jika orang yang kita bully kekurangannya tak ambil hati atau tak mudah tersinggung. Tapi jika ia ternyata diam diam menyimpan rasa sakit hati, apakabar dengan dosa kita?
Sore tadi sepulang rapat dari kampus, kami memutuskan untuk berbuka bersama diwarung makan tak jauh dari kampus, tiba-tiba salah seorang teman menyeletuk kepada teman sebelahku “Heh gendut! Lu mau pulang?” Reflek aku memprotes ucapannya. Memang badannya agak sedikit makmur daripada kami yang rata rata Bbnya hanya 40-50kg saja, tapi benar benar aku tahu dia tak suka dengan ejekan gendut dll, meskipun dia sadar bahwa badannya lebih sejahtera dari kami. Apa yang dia rasakan? Sakit hati? Pasti. Aku tahu. Bahkan tak jarang banyak teman-teman yang membicarakan bentuk badan, berat badan ataupun sekedar cara berjalannya. Perlu kita ingat, tak semua kekurangan bisa kita jadikan bahan lelucon.
Kita tak akan tahu bagaimana perasaan seseorang sesungguhnya. Sakit hatikah, dendam kah, marah, ataupun yang lainnya. Tak ada manusia sempurna, bahkan kita yang mencela pun tak luput dari kekurangan, bahkan mungkin kekurangan yang kita miliki lebih banyak dari orang yang kita cela. Ntah dia kurus, dia gemuk, dia pendek, pesek, ataupun yang lainnya.
Pengalaman dari kecil, aku pribadi sudah pernah melewati masa masa dimana benar bener saat itu tinggi kurus, dan panggilan panggilan cacing, kerempeng, dll pun bertebaran sampai ke sekolah sekolah lain. Hingga sampai sekarang aku bermetamorfosis menjadi sosok yang lebih berdamai dengan makanan maupun lingkungan sehingga berat badan pun memungkinkan untuk terus naik dan naik. Sungguh, bagiku tak masalah jika ada yang memanggilku dengan fisik yang menonjol dariku, karena notabene itu lelucon semata. Tapi bagi orang lain? Bisa saja dia sakit hati dengan ucapan yang kita kira hanya lelucon semata.
Satu pesan untuk kita. Cukupkan mencela kekurangan orang lain. Bercerminlah dan lihat kekurangan diri sendiri. Jangan sampai kita terlalu banyak mengomentari orang lain tanpa tahu komentar apa yang ada pada diri kita yang perlu diperbaiki.
Semoga bisa menjadi bahan renungan terutama untuk teman temanku semua. Dia, yang kau cela pun punya perasan yang sama denganmu. Anggaplah perasaannya itu juga perasaanmu sehingga sebisa mungkin kau jaga agar tak terluka sedikitpun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda Logat yang Bikin Galau

Mungkin pengalaman seperti ini sering sekali, bahkan hampir semua Mahasiswa rantau yang berkuliah ditempat jauh mengalaminya. Mahasiswa rantau harus beradaptasi dengan berbagai hal baru yang ada ditempat tinggal baru tersebut. Contohnya saja seperti adaptasi dengan lingkungan, adat, bahasa maupun logat, dll. Banyak pengalaman baru yang akan didapat dari tempat perantauan. Tempat perjuangan hingga akhirnya bisa mendapat gelar dibelakang nama. Nyatanya tak semudah yang dibayangkan ketika harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru. Berdasarkan pengalaman pribadi, mungkin ini juga yang dirasakan oleh Mahasiswa perantau lainnya. Bahasa saya dengan bahasa mereka, anak anak asli kota rantau sama sama dengan bahasa jawa, hanya saja logat kami berbeda. Tak hanya logat, ternyata banyak kosa kata dari mereka yang tidak saya ketahui bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya, sehingga mau tidak mau harus bertanya Apa artinya kata ini? Apakah ini kata kata kasar? Tak jarang banyak dari...

CATATAN AKHIR SEKOLAH #1

Jarum pendek jam dinding kamar tepat berada di pukul 05.00 pagi. Ku buka mata perlahan, masih terasa sakit yang menyeluruh di kepalaku. aku lupa apa yang terjadi kemarin sore saat aku pulang sekolah, tiba-tiba saja aku sudah berada di kamarku. setelah beberapa menit aku menahan nyeri di kepalaku, rasa sakit itupun sedikit-sedikit mulai menghilang, aku tahu mungkin akan datang lagi sakit itu. Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi, ku bersihkan diri dengan air hangat. Darah ku seperti mengalir dari atas kepala menuju kaki saat air itu mengenai seluruh kepalaku. Ku ambil seragam putih abu-abu itu yang telah tergantung di tempat biasa aku menanggalkan seragam-seragam ku. segera ku tarik tas dari atas meja tapi secarik kertas berwarna merah muda jatuh dari atas tas. Kertas itu bertuliskan “Happy Valentine Day Ara”. aku kenal dengan tulisan tangan itu! Deff, itu pasti Deff!. Dari dalam tas, ada sekotak kado yang dipenuhi dengan warna merah muda. Ku buka bingkisan kado itu,   “kotak...