Hari ini, aku mendapat
satu pelajaran berharga lagi. Sebuah perlajaran yang tak bisa di dapat ketika
kita tak mau bergaul dengan orang lain. karena ketika bergaul dengan lingkungan
sosial maka kita akan tahu pendapat orang lain mengenai diri kita. Kita tak
mungkin bisa menilai diri kita sendiri secara sempurna. Dengan penilaian dari
orang lain maka kita bisa memperbaiki diri kita, setidaknya bisa sedikit
meminimalisir.
Manusia diciptakan
sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya. Namun, dibalik
yang katanya “sempurna” itu selalu saja ada yang namanya kekurangan. Baik itu
fisik maupun psikis. Meskipun dengan banyaknya kekurangan yang ada didalam diri
seseorang, tidak seharusnya kita mencela kekurangan orang lain tersebut,
terlebih yang berhubungan dengan fisiknya. Manusia itu mahluk ciptaan Allah, ia
adalah sebaik-baiknya ciptaanNya. Akal, pikiran, bahkan nafsu. Sesempurna itu.
Tapi jika kita mencela orang lain dengan fisiknya yang gendut misal, atau
dengan kecerdasannya yang dibawah teman temannya yang lain, apa kita kira Allah
tak akan marah? Dengan begitu mudahnya melontarkan kata kata celaan yang
seringkali berbalut canda agar tak sedikit menyinggung. Ya tak apa jika orang
yang kita bully kekurangannya tak ambil hati atau tak mudah tersinggung. Tapi
jika ia ternyata diam diam menyimpan rasa sakit hati, apakabar dengan dosa
kita?
Sore tadi sepulang
rapat dari kampus, kami memutuskan untuk berbuka bersama diwarung makan tak jauh
dari kampus, tiba-tiba salah seorang teman menyeletuk kepada teman sebelahku “Heh
gendut! Lu mau pulang?” Reflek aku memprotes ucapannya. Memang badannya agak
sedikit makmur daripada kami yang rata rata Bbnya hanya 40-50kg saja, tapi
benar benar aku tahu dia tak suka dengan ejekan gendut dll, meskipun dia sadar
bahwa badannya lebih sejahtera dari kami. Apa yang dia rasakan? Sakit hati? Pasti.
Aku tahu. Bahkan tak jarang banyak teman-teman yang membicarakan bentuk badan,
berat badan ataupun sekedar cara berjalannya. Perlu kita ingat, tak semua
kekurangan bisa kita jadikan bahan lelucon.
Kita tak akan tahu bagaimana
perasaan seseorang sesungguhnya. Sakit hatikah, dendam kah, marah, ataupun yang
lainnya. Tak ada manusia sempurna, bahkan kita yang mencela pun tak luput dari
kekurangan, bahkan mungkin kekurangan yang kita miliki lebih banyak dari orang
yang kita cela. Ntah dia kurus, dia gemuk, dia pendek, pesek, ataupun yang
lainnya.
Pengalaman dari kecil,
aku pribadi sudah pernah melewati masa masa dimana benar bener saat itu tinggi kurus,
dan panggilan panggilan cacing, kerempeng, dll pun bertebaran sampai ke sekolah
sekolah lain. Hingga sampai sekarang aku bermetamorfosis menjadi sosok yang
lebih berdamai dengan makanan maupun lingkungan sehingga berat badan pun
memungkinkan untuk terus naik dan naik. Sungguh, bagiku tak masalah jika ada yang
memanggilku dengan fisik yang menonjol dariku, karena notabene itu lelucon
semata. Tapi bagi orang lain? Bisa saja dia sakit hati dengan ucapan yang kita
kira hanya lelucon semata.
Satu pesan untuk kita.
Cukupkan mencela kekurangan orang lain. Bercerminlah dan lihat kekurangan diri
sendiri. Jangan sampai kita terlalu banyak mengomentari orang lain tanpa tahu
komentar apa yang ada pada diri kita yang perlu diperbaiki.
Semoga bisa menjadi bahan
renungan terutama untuk teman temanku semua. Dia, yang kau cela pun punya
perasan yang sama denganmu. Anggaplah perasaannya itu juga perasaanmu sehingga
sebisa mungkin kau jaga agar tak terluka sedikitpun.
Komentar
Posting Komentar