Kisah kepenulisanku ini berawal dari sebuah grup whatsapp, Fakultas Menulis Online. Broadcast yang mengatasnamakan grup kepenulisan, untuk dijadikan wadah peminat dunia literasi. Satu langkah awal untuk ku menemukan satu grup yang cocok untuk meningkatkan minat dan bakat dalam bidang tulis menulis, karena merasa bekal dalam menulis masih sangat minim sekali. Awalnya kita harus mendaftarkan diri agar dapat masuk dalam grup penyaringan, hmm karantina? Belum bisa dibilang karantina juga karena kita harus menyelesaikan tantangan 7 hari menulis berturut-turut untuk dapat masuk grup tersebut. Tak mudah bagiku yang hanya bisa menulis ala kadarnya. Beruntung bisa masuk kedalam grup penyaringan ini, bertemu orang orang hebat dengana tulisan tulisannya yang keren. Bebas berekspresi menyalurkan bakat menulis, apapun itu jenis tulisannya. Bukan rasa minder yang hinggap dalam diri ini, namun semakin terpacu semangat dalam hati untuk bisa meningkatkan bakat dalam dunia literasi. Harus s...
Ku tatap awan yang mulai menampakkan kesenduannya. Gelap. Ku langkahkan kaki menuju ruang masalalu. Masa dimana bukan aku saja yang berperan dalam skenarioNya. Tapi ada kau disini. Langit mulai menitikkan air matanya. Tak lama nyanyian hujan menggema ditempat yang ku pijak. Tempat dimana ketika aku, kau dan kenangan itu tercipta. Kaki ini berlari mencari peneduh, ku fikir lagi, andai saja ada kau. Mungkin adegan dalam drama korea itu akan nyata. Kau menggandeng tanganku dan kita berlari bersama dibawah tangis awan. Hingga aroma kopi menuntunku untuk melangkah semakin dalam. Aku ingat aroma itu bagian dari kenangan dulu. Aroma yang pernah mati kini tercium lagi. Semakin lama ku hirup, aroma manis itu berubah menjadi aroma kerinduan. Aku rindu saat itu, kita duduk bersama ditemani manis kopi yang kau buat. Bercerita tentang filosofi secangkir kopi. Kau katakan tentang kepahitan hidup. Namun kau tetap bertahan atas manisnya pengharapan. Aroma itu selalu saja menu...