Ku tatap awan yang mulai menampakkan kesenduannya. Gelap. Ku
langkahkan kaki menuju ruang masalalu. Masa dimana bukan aku saja yang berperan
dalam skenarioNya. Tapi ada kau disini. Langit mulai menitikkan air matanya.
Tak lama nyanyian hujan menggema ditempat yang ku pijak. Tempat dimana ketika
aku, kau dan kenangan itu tercipta.
Kaki ini berlari mencari peneduh, ku fikir lagi, andai saja
ada kau. Mungkin adegan dalam drama korea itu akan nyata. Kau menggandeng
tanganku dan kita berlari bersama dibawah tangis awan.
Hingga aroma kopi menuntunku untuk melangkah semakin dalam. Aku
ingat aroma itu bagian dari kenangan dulu. Aroma yang pernah mati kini tercium lagi.
Semakin lama ku hirup, aroma manis itu berubah menjadi aroma kerinduan.
Aku rindu saat itu, kita duduk bersama ditemani manis kopi
yang kau buat. Bercerita tentang filosofi secangkir kopi. Kau katakan tentang
kepahitan hidup. Namun kau tetap bertahan atas manisnya pengharapan. Aroma itu
selalu saja menusuk jantungku, mencoba merobek hati. Ku paksa tersenyum walau
hanya ada getir disana. Andai saja takdir Tuhan tak semenyakitkan itu untukmu.
Ahh, sudahlah. Khayalanku selalu saja tertuju pada masa itu.
Ya, dan lagi-lagi selalu saja pengandaian yang ku sebut sebut. Ku ikhlaskan kau
menghilang dari kedai aroma rindu ini. berjalan menuju tempat terindah Tuhan. Jangan
anggap kau sendiri, aku pun mengiringimu. Meskipun ragaku tak mampu menjamah
tanganmu lagi, menggandeng seperti dulu kau kerap lakukan padaku. Hanya ada
kenangan kita dalam kumparan doa. Sebuah pengharapan diujung kepahitan yang kau
rasa. Ku relakan pemilik aroma rindu itu terbaring berbalut selimut dunia
disana. Menggigil dengan rintikan tangis. Tersiksa dengan kebisuan kata.
Hingga saat ini, kopi beraroma rindu itu masih ku nanti
kehadirannya. Meski ku tahu, sang pencipta kerinduan itu tak akan pernah bisa
kembali lagi mengaduk rasa manis atas kepahitan kopinya.
Komentar
Posting Komentar