Tahukah kau bagaimana persahabatan antara mendung dan hujan?
Mereka erat, tak ingin dipisahkan.
Ketika hujan mendung turut serta memayungi langit
Meskipun ketika mendung menampakkan hitamnya
Terkadang hujan tak mau menemani
Ia sibuk dengan egonya sendiri
Hanya akan menitikkan rintiknya ketika ia sendu
Sama seperti kau dan aku
Aku masih belum pantas memberi label pada diriku sebagai sahabat
Bagaimana tidak?
Suara sapaan itu kian pudar
Hanya sampai kerongkongan lalu tertahan
Tak bisa bersuara dan akhirnya hilang diantara udara
Maafkan aku yang selalu bersembunyi dibalik benteng ego
Berpura tak mendengar padahal melihat
Berpura tak menampakkan padahal merintih
Berpura memendam padahal merasa
Karena kau seperti daun yang rela jatuh
Tanpa memenci angin yang menerpa
Tak peduli seberapa sakitnya
Ia tetap gugur demi musim yang indah
Jiwa itu tergerus arus waktu
Meninggalkan jejak masa yang lalu
Meskipun raga itu terlihat
Terkadang rasanya tak sama
Seperti kala dulu menapaki jalan terjal
Sulit, namun terasa ringan ketika tangan itu masih terpegang erat
Kini mencoba membisukan suara itu
Melempar jauh jauh perasaan yang menikam diam diam
Memborgol ego lalu memenjarakannya dalam bui
Tak perlu mendengar cercaan angin
Dan suara riuh hinaan
Biarkan mereka tertawa dengan argumennya
Mereka erat, tak ingin dipisahkan.
Ketika hujan mendung turut serta memayungi langit
Meskipun ketika mendung menampakkan hitamnya
Terkadang hujan tak mau menemani
Ia sibuk dengan egonya sendiri
Hanya akan menitikkan rintiknya ketika ia sendu
Sama seperti kau dan aku
Aku masih belum pantas memberi label pada diriku sebagai sahabat
Bagaimana tidak?
Suara sapaan itu kian pudar
Hanya sampai kerongkongan lalu tertahan
Tak bisa bersuara dan akhirnya hilang diantara udara
Maafkan aku yang selalu bersembunyi dibalik benteng ego
Berpura tak mendengar padahal melihat
Berpura tak menampakkan padahal merintih
Berpura memendam padahal merasa
Karena kau seperti daun yang rela jatuh
Tanpa memenci angin yang menerpa
Tak peduli seberapa sakitnya
Ia tetap gugur demi musim yang indah
Jiwa itu tergerus arus waktu
Meninggalkan jejak masa yang lalu
Meskipun raga itu terlihat
Terkadang rasanya tak sama
Seperti kala dulu menapaki jalan terjal
Sulit, namun terasa ringan ketika tangan itu masih terpegang erat
Kini mencoba membisukan suara itu
Melempar jauh jauh perasaan yang menikam diam diam
Memborgol ego lalu memenjarakannya dalam bui
Tak perlu mendengar cercaan angin
Dan suara riuh hinaan
Biarkan mereka tertawa dengan argumennya
Komentar
Posting Komentar