Langsung ke konten utama

CATATAN AKHIR SEKOLAH #2



Minggu Pagi. Suasana yang cukup cerah namun masih tercium bau hujan yang membasahi tanah. Ku buka jendela kamar agar udara segar dapat masuk ke dalam. Segarnya udara pagi memenuhi rongga dadaku dan hangatnya sang mentari dapat kurasakan menyentuh kulitku. Aku sangat menyukai pagi hari, banyak hal yang membuatku sangat menyukai pagi hari. Aku bisa memulai semuanya dari awal lagi. Dan aku bisa melihat senyuman Deff disetiap pagi.
Tapi akhir-akhir ini terasa sangat berbeda. Lelaki yang biasanya menemaniku sekarang sudah semakin menjauh dariku. belakangan ini memang Deff sering menghindar. entahlah apa salahku sampai dia berubah 180 derajat.
“kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu menghindar, kamu sekarang beda Deff”
‘sending’ ..
“Deff, aku salah apa sama kamu? Kamu bilang kalau ada masalah, kita kan bisa bicara baik-baik, bukan diam begini”
‘sending’ ..
“Deff please, angkat telfonnya”
‘sending’ ..
­­­sudah berkali-kali mungkin sampai puluhan kali dia tak membalas pesan singkat dariku. Deff juga sulit dihubungi, ia tak mau mengangkat telfonku, dan itu sudah berkali-kali ku telfon. Aku semakin panik. ada rasa takut, bimbang, resah yang beradu menjadi satu. Akhirnya ku putuskan untuk menemui Deff di rumahnya.
***
Langit siang hari yang panas sekarang berubah menjadi mendung, sepertinya langit pun tahu suasana hatiku sekarang. Langit seakan-akan ingin menumpahkan tangisnya. Aku harus berjalan kaki menuju rumah Deff. Kaki ku semakin bergerak cepat menuju rumah Deff.
Sampai di rumah Deff, awan mendung menumpahkan seluruh isinya. Terlihat Deff sedang duduk di ruang tamu, pintunya terbuka lebar sehingga dari luar aku dapat melihat dengan jelas apa yang ada didalam.
“Deff, aku mohon kamu keluar sebentar! Kita harus bicara!” aku harus berteriak dari luar karena pintu gerbang rumahnya terkunci, suara derasnya hujan membuatku semakin harus berteriak lebih kencang. Mungkin Deff tak mendengar, ku ulangi ucapanku tadi. Setelah beberapa kali, Deff keluar tapi dia tak mau menemuiku. Mungkin dia memang tak mau berhubungan denganku lagi, dia tak mau membukakan pintu gerbangnya untukku, tak seperti biasanya Deff selalu menyambutku dengan senyum manisnya. Aku terpaksa berbicara dibawah derasnya hujan. Wajah Deff terlihat tak bersahabat, dia begitu dingin, ada yang beda dengan tatapan matanya. Aku tak tahu apa yang membuat Deff seperti ini. “Deff, aku mohon, kamu jangan jauhin aku! Kamu jangan hindarin aku! Apa salah ku sampai kamu berubah jadi gini?? Aku mau kamu bicara Deff!” ku perkeras ucapanku, aku tak mau hujan mengalahkan suara ku.
“Ada perlu apa kesini? Maaf aku nggak ada waktu buat urusan gini. Mendingan kamu pulang sekarang. Satu lagi, mulai sekarang jangan ganggu aku”
Aku seperti terjatuh dari atas langit. Seperti tetesan air hujan yang dijatuhkan dari atas awan sana. Sakit! Sangat sakit. Seseorang yang selama ini ku jadikan penyemangat hidupku sekarang .. sudahlah sepertinya ini terlalu sakit untuk ku katakan. Aku memilih pulang daripada aku harus menahan sakit ini didepan Deff. Aku menangis, baru pertama kali ini Deff berhasil membuatku meneteskan air mataku. Aku menangis dibawah derasnya hujan, air mataku tak terlihat karna tersapu derasnya air hujan. Ku percepat langkahku agar aku bisa meninggalkan rasa sakit di tempat tadi. Tapi di tengah-tengah perjalanan, hidungku terasa seperti mengeluarkan cairan. Benar saja, cairan merah itu keluar lagi dari hidungku. Aku sangat takut dengan darah meski sudah berkali-kali aku mengeluarkan darah dari hidungku. Untung saja aku sudah hampir sampai, tinggal beberapa meter saja aku bisa sampai di rumah. Tapi tiba-tiba semuanya menjadi gelap, seluruh badanku mendadak menjadi sangat lemas, bahkan untuk menggerakkan kaki ku saja sangat sulit. Aku tak sadarkan diri didepan rumah. Aku bisa mendengar suara panik ayah dan ibuku saat mereka melihat ku pingsan.
***
Ibu dan ayahku yang cemas karena aku tak kunjung sadar akhirnya melarikanku ke Rumah Sakit. Aku tak pernah memberitahu orang tua ku tentang penyakit yang ada didalam tubuhku. Aku drop dan harus dirawat di Rumah Sakit.
Aku berharap Deff tahu dan mau menjengukku, tapi sampai saat ini pun dia tak datang menjengukku, sekedar mengirim ucapan lewat pesan singkat saja tidak.
“aku yakin kamu akan datang. Deff, aku rindu dengan semua tentang kita” tanpa sadar, butiran air itu menetes dari mataku. 'Aku masih berharap kamu datang Deff'
Malam mulai larut. Aku mencoba memejamkan mataku untuk sekedar melupakan semua tentang Deff dan berharap ketika aku terbangun di pagi nanti Deff akan ada di sampingku. Menemaniku dengan senyumannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NO BODY’S PERFECT

Hari ini, aku mendapat satu pelajaran berharga lagi. Sebuah perlajaran yang tak bisa di dapat ketika kita tak mau bergaul dengan orang lain. karena ketika bergaul dengan lingkungan sosial maka kita akan tahu pendapat orang lain mengenai diri kita. Kita tak mungkin bisa menilai diri kita sendiri secara sempurna. Dengan penilaian dari orang lain maka kita bisa memperbaiki diri kita, setidaknya bisa sedikit meminimalisir. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya. Namun, dibalik yang katanya “sempurna” itu selalu saja ada yang namanya kekurangan. Baik itu fisik maupun psikis. Meskipun dengan banyaknya kekurangan yang ada didalam diri seseorang, tidak seharusnya kita mencela kekurangan orang lain tersebut, terlebih yang berhubungan dengan fisiknya. Manusia itu mahluk ciptaan Allah, ia adalah sebaik-baiknya ciptaanNya. Akal, pikiran, bahkan nafsu. Sesempurna itu. Tapi jika kita mencela orang lain dengan fisiknya yang gendut misal, atau dengan ke...

Beda Logat yang Bikin Galau

Mungkin pengalaman seperti ini sering sekali, bahkan hampir semua Mahasiswa rantau yang berkuliah ditempat jauh mengalaminya. Mahasiswa rantau harus beradaptasi dengan berbagai hal baru yang ada ditempat tinggal baru tersebut. Contohnya saja seperti adaptasi dengan lingkungan, adat, bahasa maupun logat, dll. Banyak pengalaman baru yang akan didapat dari tempat perantauan. Tempat perjuangan hingga akhirnya bisa mendapat gelar dibelakang nama. Nyatanya tak semudah yang dibayangkan ketika harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru. Berdasarkan pengalaman pribadi, mungkin ini juga yang dirasakan oleh Mahasiswa perantau lainnya. Bahasa saya dengan bahasa mereka, anak anak asli kota rantau sama sama dengan bahasa jawa, hanya saja logat kami berbeda. Tak hanya logat, ternyata banyak kosa kata dari mereka yang tidak saya ketahui bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya, sehingga mau tidak mau harus bertanya Apa artinya kata ini? Apakah ini kata kata kasar? Tak jarang banyak dari...

CATATAN AKHIR SEKOLAH #1

Jarum pendek jam dinding kamar tepat berada di pukul 05.00 pagi. Ku buka mata perlahan, masih terasa sakit yang menyeluruh di kepalaku. aku lupa apa yang terjadi kemarin sore saat aku pulang sekolah, tiba-tiba saja aku sudah berada di kamarku. setelah beberapa menit aku menahan nyeri di kepalaku, rasa sakit itupun sedikit-sedikit mulai menghilang, aku tahu mungkin akan datang lagi sakit itu. Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi, ku bersihkan diri dengan air hangat. Darah ku seperti mengalir dari atas kepala menuju kaki saat air itu mengenai seluruh kepalaku. Ku ambil seragam putih abu-abu itu yang telah tergantung di tempat biasa aku menanggalkan seragam-seragam ku. segera ku tarik tas dari atas meja tapi secarik kertas berwarna merah muda jatuh dari atas tas. Kertas itu bertuliskan “Happy Valentine Day Ara”. aku kenal dengan tulisan tangan itu! Deff, itu pasti Deff!. Dari dalam tas, ada sekotak kado yang dipenuhi dengan warna merah muda. Ku buka bingkisan kado itu,   “kotak...