Minggu Pagi. Suasana yang
cukup cerah namun masih tercium bau hujan yang membasahi tanah. Ku buka jendela
kamar agar udara segar dapat masuk ke dalam. Segarnya udara pagi memenuhi
rongga dadaku dan hangatnya sang mentari dapat kurasakan menyentuh kulitku. Aku
sangat menyukai pagi hari, banyak hal yang membuatku sangat menyukai pagi hari.
Aku bisa memulai semuanya dari awal lagi. Dan aku bisa melihat senyuman Deff
disetiap pagi.
Tapi akhir-akhir ini terasa
sangat berbeda. Lelaki yang biasanya menemaniku sekarang sudah semakin menjauh
dariku. belakangan ini memang Deff sering menghindar. entahlah apa salahku
sampai dia berubah 180 derajat.
“kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu
menghindar, kamu sekarang beda Deff”
‘sending’
..
“Deff,
aku salah apa sama kamu? Kamu bilang kalau ada masalah, kita kan bisa bicara
baik-baik, bukan diam begini”
‘sending’ ..
“Deff
please, angkat telfonnya”
‘sending’ ..
sudah berkali-kali
mungkin sampai puluhan kali dia tak membalas pesan singkat dariku. Deff juga
sulit dihubungi, ia tak mau mengangkat telfonku, dan itu sudah berkali-kali ku
telfon. Aku semakin panik. ada rasa takut, bimbang, resah yang beradu menjadi
satu. Akhirnya ku putuskan untuk menemui Deff di rumahnya.
***
Langit siang hari yang panas
sekarang berubah menjadi mendung, sepertinya langit pun tahu suasana hatiku
sekarang. Langit seakan-akan ingin menumpahkan tangisnya. Aku harus berjalan
kaki menuju rumah Deff. Kaki ku semakin bergerak cepat menuju rumah Deff.
Sampai di rumah Deff, awan
mendung menumpahkan seluruh isinya. Terlihat Deff sedang duduk di ruang tamu,
pintunya terbuka lebar sehingga dari luar aku dapat melihat dengan jelas apa
yang ada didalam.
“Deff, aku mohon kamu keluar
sebentar! Kita harus bicara!” aku harus berteriak dari luar karena pintu
gerbang rumahnya terkunci, suara derasnya hujan membuatku semakin harus
berteriak lebih kencang. Mungkin Deff tak mendengar, ku ulangi ucapanku tadi.
Setelah beberapa kali, Deff keluar tapi dia tak mau menemuiku. Mungkin dia
memang tak mau berhubungan denganku lagi, dia tak mau membukakan pintu
gerbangnya untukku, tak seperti biasanya Deff selalu menyambutku dengan senyum
manisnya. Aku terpaksa berbicara dibawah derasnya hujan. Wajah Deff terlihat
tak bersahabat, dia begitu dingin, ada yang beda dengan tatapan matanya. Aku
tak tahu apa yang membuat Deff seperti ini. “Deff, aku mohon, kamu jangan
jauhin aku! Kamu jangan hindarin aku! Apa salah ku sampai kamu berubah jadi
gini?? Aku mau kamu bicara Deff!” ku perkeras ucapanku, aku tak mau hujan
mengalahkan suara ku.
“Ada perlu apa kesini? Maaf
aku nggak ada waktu buat urusan gini. Mendingan kamu pulang sekarang. Satu
lagi, mulai sekarang jangan ganggu aku”
Aku seperti terjatuh dari atas
langit. Seperti tetesan air hujan yang dijatuhkan dari atas awan sana. Sakit!
Sangat sakit. Seseorang yang selama ini ku jadikan penyemangat hidupku sekarang
.. sudahlah sepertinya ini terlalu sakit untuk ku katakan. Aku memilih pulang
daripada aku harus menahan sakit ini didepan Deff. Aku menangis, baru pertama
kali ini Deff berhasil membuatku meneteskan air mataku. Aku menangis dibawah
derasnya hujan, air mataku tak terlihat karna tersapu derasnya air hujan. Ku
percepat langkahku agar aku bisa meninggalkan rasa sakit di tempat tadi. Tapi
di tengah-tengah perjalanan, hidungku terasa seperti mengeluarkan cairan. Benar
saja, cairan merah itu keluar lagi dari hidungku. Aku sangat takut dengan darah
meski sudah berkali-kali aku mengeluarkan darah dari hidungku. Untung saja aku
sudah hampir sampai, tinggal beberapa meter saja aku bisa sampai di rumah. Tapi
tiba-tiba semuanya menjadi gelap, seluruh badanku mendadak menjadi sangat
lemas, bahkan untuk menggerakkan kaki ku saja sangat sulit. Aku tak sadarkan
diri didepan rumah. Aku bisa mendengar suara panik ayah dan ibuku saat mereka
melihat ku pingsan.
***
Ibu dan ayahku yang cemas
karena aku tak kunjung sadar akhirnya melarikanku ke Rumah Sakit. Aku tak
pernah memberitahu orang tua ku tentang penyakit yang ada didalam tubuhku. Aku
drop dan harus dirawat di Rumah Sakit.
Aku berharap Deff tahu dan
mau menjengukku, tapi sampai saat ini pun dia tak datang menjengukku, sekedar
mengirim ucapan lewat pesan singkat saja tidak.
“aku
yakin kamu akan datang. Deff, aku rindu dengan semua tentang kita”
tanpa sadar, butiran air itu menetes dari mataku. 'Aku masih berharap kamu datang Deff'
Malam mulai larut. Aku
mencoba memejamkan mataku untuk sekedar melupakan semua tentang Deff dan
berharap ketika aku terbangun di pagi nanti Deff akan ada di sampingku.
Menemaniku dengan senyumannya.
Komentar
Posting Komentar