Kehilangan? Haruskah kata itu terlontar dan membiarkan ia
mengalir bebas?
Rasanya baru kemarin kau disini, mencoba membantuku berdiri
ketika aku hanya mampu merangkak. Mengobati semua sakitku dari sihir yang
membisu, menampung semua keluhku dari kenyataan yang membekukan hati.
Aku mencoba mengais-ngais bayangmu diantara gelap.
Berharap temukan kau disudut hatiku.
Sebuah tali melingkar itu kian rapuh termakan ego.
Berharap temukan kau disudut hatiku.
Sebuah tali melingkar itu kian rapuh termakan ego.
Apa yang salah? Dulu kita bak sepatu melangkah dengan irama
yang sama.
Berbeda, namun tetap pada satu titik.
Kini, kita saling berbalik arah, mencoba melangkah, saling sendiri dan menjauhi titik pusat, mencoba mendustai masa yang telah lalu.
Berbeda, namun tetap pada satu titik.
Kini, kita saling berbalik arah, mencoba melangkah, saling sendiri dan menjauhi titik pusat, mencoba mendustai masa yang telah lalu.
Bahkan suaramu semakin samar ku dengar
Tatapmu semakin redup ku lihat
Warnamu semakin pudar ku dekap
Dan bayangmu semakin menghilang dari genggaman mata
Sebuah teka teki takdir yang tak ingin kita pecahkan. Mencoba
bersembunyi dari perasaan rindu, karna seringkali ia datang membelenggu. Hanya mampu
menatap dari kejauhan. Tanpa patah kata. Tanpa sebuah tatap rindu. Hanya kesenduan
yang tersampaikan.
Aku rindu ketika kita mencoba bercerita masa depa, menerka
rahasia Tuhan dan mencerca semua dengan sebuah pengharapan
Komentar
Posting Komentar