ANDAI saja aku dapat memilih,
kapan aku akan jatuh cinta, dengan siapa aku nantinya akan menjatuhkan hatiku,
dan kapan waktunya datang. Ya, hanya pengandaian yang masih menjadi tanya. Sebuah
takdir jauh dari angan yang ku damba. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika
Dia akan menjatuhkan hatiku kepadamu. Lelaki yang mampu merobohkan niat dan
iman yang ku benteng dengan kuat. Aku tak ingin jatuh cinta! Ini bukan waktu
yang tepat untukku!
Kenapa harus kau? Satu nama yang
tak sengaja berhenti disudut hatiku yang menghantui setiap malam. Dan tiba tiba
menyeretku masuk & memintaku melanjutkan dunia khayalku tentangmu. Kenapa
harus kau? Yang kerapkali bertemu degup ini semakin kencang tak menentu. Kenapa
pula harus kau? Yang selalu berhasil menggoreskan segaris senyum diwajahku. Kau
bukan gambaran dalam mimpi, kau nyata diseberang sana. Didunia imajinasiku yang
begitu tinggi, kaulah yang selalu berhasil berada dipuncaknya.
Terkadang menyesal menjatuhkan
hatiku kepadamu. Kenapa tak tepat pada waktunya? Aku tahu kenapa Allah
menimpakan Isyq (mabuk cinta) kepadaku. Hatiku lalai dari berdzikir kepadaNya.
Aku tak mampu menundukkan pandanganku lagi. Aku malu dengan keadaanku seperti
ini. Meskipun aku tahu, cinta adalah fitrah. Ia tak bersalah, ia bukan dosa
ataupun aib. Tapi aku tak ingin mengotori bahkan membuat keimananku runtuh
begitu saja.
Karena akulah sang aktivis
dakwah, akulah mahasiswi Islam yang selalu berada dibaris paling depan ketika mahasiswa
awam membicarakan keburukan ahlak dibalik jilbab. Akulah yang maju didepan
mereka yang menghakimi agamaku. Tak mungkin aku menodai imanku dengan adanya dua
Raja dalam satu hati. Kau dan Allah, Tuhanku. Aku tak ingin ketika aku
menasehati buruknya zina, tetapi hatiku sendiri selalu berzina selama ada
dirimu yang merajai.
Ntahlah, rasa hati begitu pedih.
Aku masih terus saja menyimpan rasaku dalam diam, mencoba menyampaikannya
kepada Pemilik hati, Allah. Aku tahu, inilah balasan dari Allah ketika aku
berharap kepada hati selain hatiNya.
Terkadang bibir dan hati tidak
ada keselarasan diantara keduanya. Munafik memang. Ketika bibirku berkata
“TIDAK” namun hatiku selalu mengatakan “IYA”. Memang terkadang munafik perlu
untukku. Cukup untuk membohongi perasaan sesak yang seringkali menikam
diam-diam. Membiarkan perasaan ini mati bersama lelehan air mata dipenghujung
sujud malamku. Salah ketika cupid memanahkan panahnya kepadamu. Rasa yang
seharusnya tak kumiliki, mencoba membuang namun tetap mendesak masuk.
ALLAH! Aku ingin Kau ambil
perasaanku padanya. Aku ingin kau jauhkan diriku darinya. Biarkan kami bertemu
dalam doa. Dekatkanlah kami lagi dengan caraMu yang terindah jika memang
namanya lah yang tertulis dalam Lauhul Mahfud.
Teruntukmu, sang cinta. Aksara
cinta yang hanya tertahan pada ujung pena
Komentar
Posting Komentar