Langsung ke konten utama

CATATAN AKHIR SEKOLAH #3



Sore dirumah sakit. Aku duduk terdiam mataku tertuju pada pohon cemara diluar taman sana. Suasana sore itu sangat bersahabat, langit senja berwarna cerah. Terlihat sepasang burung sedang menikmati dunia mereka sendiri. Ada rasa iri dengan mereka. Burung itu terlihat sangat bahagia hidup dengan pasangannya. Bisa ku bayangkan jika aku dan Deff seperti burung itu, menjadi sepasang kekasih. Mungkin aku akan jadi orang yang paling bahagia.
Sore itu Rumah Sakit tak terdengar suara ramai oleh orang yang datang sehingga suasana nampak sepi. Yang ada didalam ruangan hanya aku ditemani buku diary bercover Minnie Mouse. Didalam buku itu aku sengaja menyimpan foto kami berdua. Foto-foto itu ku tempel dibagian awal buku.
Tanganku mulai menari diatas lembaran kertas. Menuliskan apa yang aku rasakan dari waktu ke waktu.
Bagaimana mungkin aku bisa menghapus bayang senyum diwajahmu?
Bila disetiap titik bintang dan dibawah cahaya bulan bayangmu selalu datang
Bagaimana mungkin aku bisa menghapus namamu yang sudah kekal terukir indah dihatiku
Sedangkan hati ini selalu mengisyaratkan cinta untukmu
Seiring bergulirnya sang waktu
Duka lara hati ini tak mungkin dapat ku pungkiri
Meskipun kerap deraian air mata tak mampu ku bendung selalu
Semoga dengan tulisan ini kau dapat tahu tentang rasaku
Kau sang cinta

Ku tatap mentari sore yang kian bersembunyi dari peraduannya, tugasnya telah usai. Senja itupun mulai berganti malam seiring berjalannya sang waktu. Hangatnya sang mentari kini digantikan oleh Dewi bulan ditemani ribuan bintang dilangit.
“Deff, aku masih menunggumu datang, aku yakin saat ku buka mataku nanti kau akan ada di sampingku”
Ku mencoba memejamkan mata, berharap Sang Pangeran akan segera datang.
***
Ku buka mataku perlahan. Terlihat samar-samar sosok lelaki tengah duduk di kursi samping tempat tidur, ia sedang tertidur dengan kepala bersandar pada tepian tempat tidur. “Deff! Kamu Deff???” suaraku seperti hilang, sia-sia tak ada satupun suaraku yang keluar. “Apa aku bermimpi? Tidak! Dia benar Deff” Tubuhku masih terasa sangat lemas, aku hanya bisa menatap Deff. Beberapa menit kemudian Deff terbangun, aku hanya bisa terdiam dan tetap menatap Deff dengan lelehan air mata di setiap pipiku.
“Ara, kamu sudah bangun ternyata. Maaf kemarin aku sangat kasar kepadamu, bahkan mencoba menghindarimu. Maaf juga karena aku kamu harus masuk Rumah Sakit. Aku baru bisa datang, kemarin malam aku baru mendapat kabar dari temanmu”
“Deff, akhirnya kamu datang. Aku tahu kamu pasti akan datang menemuiku. Tidak Deff, ini semua bukan salahmu. Terimakasih kamu sudah mau menjengukku” ucapku lirih namun lenyap begitu saja diantara udara
Deff menatap mataku, ia tersenyum. Ya, senyuman yang selama ini aku rindukan kini hadir kembali. Senyuman yang bisa membawa semangat untukku.
***
Sejak pulang dari Rumah Sakit, ibu memperketat kegiatanku. Aku tidak boleh terlalu banyak kegiatan. Bahkan untuk sekedar jalan-jalan saja aku harus di temani.
Pagi ini aku akan berangkat ke sekolah meski kondisiku masih lemah. Aku benar-benar rindu pada sekolah ini. Banyak kenangan yang tertinggal. Termasuk dia, sang cinta yang bersemi kala waktu mempertemukan kita. Andai waktu bisa terulang, aku ingin berhenti di masa itu. Masa dimana hanya ada aku dan Deff, berdua menikmati senja dan berjalan bersama di bawah derasnya hujan. Kenangan yang tak akan  bisa mudah hilang dari ingatanku.
Ku lewati setiap lorong dan setiap sudut ruang sekolah. Aku tersenyum saat melewati setiap tempat yang biasa aku dan Deff singgahi. Bayangan masa itu seperti diputar kembali oleh otakku. Terekam jelas masa itu. Sangat manis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NO BODY’S PERFECT

Hari ini, aku mendapat satu pelajaran berharga lagi. Sebuah perlajaran yang tak bisa di dapat ketika kita tak mau bergaul dengan orang lain. karena ketika bergaul dengan lingkungan sosial maka kita akan tahu pendapat orang lain mengenai diri kita. Kita tak mungkin bisa menilai diri kita sendiri secara sempurna. Dengan penilaian dari orang lain maka kita bisa memperbaiki diri kita, setidaknya bisa sedikit meminimalisir. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya. Namun, dibalik yang katanya “sempurna” itu selalu saja ada yang namanya kekurangan. Baik itu fisik maupun psikis. Meskipun dengan banyaknya kekurangan yang ada didalam diri seseorang, tidak seharusnya kita mencela kekurangan orang lain tersebut, terlebih yang berhubungan dengan fisiknya. Manusia itu mahluk ciptaan Allah, ia adalah sebaik-baiknya ciptaanNya. Akal, pikiran, bahkan nafsu. Sesempurna itu. Tapi jika kita mencela orang lain dengan fisiknya yang gendut misal, atau dengan ke...

Beda Logat yang Bikin Galau

Mungkin pengalaman seperti ini sering sekali, bahkan hampir semua Mahasiswa rantau yang berkuliah ditempat jauh mengalaminya. Mahasiswa rantau harus beradaptasi dengan berbagai hal baru yang ada ditempat tinggal baru tersebut. Contohnya saja seperti adaptasi dengan lingkungan, adat, bahasa maupun logat, dll. Banyak pengalaman baru yang akan didapat dari tempat perantauan. Tempat perjuangan hingga akhirnya bisa mendapat gelar dibelakang nama. Nyatanya tak semudah yang dibayangkan ketika harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru. Berdasarkan pengalaman pribadi, mungkin ini juga yang dirasakan oleh Mahasiswa perantau lainnya. Bahasa saya dengan bahasa mereka, anak anak asli kota rantau sama sama dengan bahasa jawa, hanya saja logat kami berbeda. Tak hanya logat, ternyata banyak kosa kata dari mereka yang tidak saya ketahui bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya, sehingga mau tidak mau harus bertanya Apa artinya kata ini? Apakah ini kata kata kasar? Tak jarang banyak dari...

CATATAN AKHIR SEKOLAH #1

Jarum pendek jam dinding kamar tepat berada di pukul 05.00 pagi. Ku buka mata perlahan, masih terasa sakit yang menyeluruh di kepalaku. aku lupa apa yang terjadi kemarin sore saat aku pulang sekolah, tiba-tiba saja aku sudah berada di kamarku. setelah beberapa menit aku menahan nyeri di kepalaku, rasa sakit itupun sedikit-sedikit mulai menghilang, aku tahu mungkin akan datang lagi sakit itu. Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi, ku bersihkan diri dengan air hangat. Darah ku seperti mengalir dari atas kepala menuju kaki saat air itu mengenai seluruh kepalaku. Ku ambil seragam putih abu-abu itu yang telah tergantung di tempat biasa aku menanggalkan seragam-seragam ku. segera ku tarik tas dari atas meja tapi secarik kertas berwarna merah muda jatuh dari atas tas. Kertas itu bertuliskan “Happy Valentine Day Ara”. aku kenal dengan tulisan tangan itu! Deff, itu pasti Deff!. Dari dalam tas, ada sekotak kado yang dipenuhi dengan warna merah muda. Ku buka bingkisan kado itu,   “kotak...