Sore dirumah sakit. Aku
duduk terdiam mataku tertuju pada pohon cemara diluar taman sana. Suasana sore
itu sangat bersahabat, langit senja berwarna cerah. Terlihat sepasang burung
sedang menikmati dunia mereka sendiri. Ada rasa iri dengan mereka. Burung itu
terlihat sangat bahagia hidup dengan pasangannya. Bisa ku bayangkan jika aku
dan Deff seperti burung itu, menjadi sepasang kekasih. Mungkin aku akan jadi
orang yang paling bahagia.
Sore itu Rumah Sakit tak
terdengar suara ramai oleh orang yang datang sehingga suasana nampak sepi. Yang
ada didalam ruangan hanya aku ditemani buku diary bercover Minnie Mouse. Didalam
buku itu aku sengaja menyimpan foto kami berdua. Foto-foto itu ku tempel
dibagian awal buku.
Tanganku mulai menari diatas
lembaran kertas. Menuliskan apa yang aku rasakan dari waktu ke waktu.
Bagaimana mungkin aku bisa
menghapus bayang senyum diwajahmu?
Bila disetiap titik bintang
dan dibawah cahaya bulan bayangmu selalu datang
Bagaimana mungkin aku bisa
menghapus namamu yang sudah kekal terukir indah dihatiku
Sedangkan hati ini selalu
mengisyaratkan cinta untukmu
Seiring bergulirnya sang
waktu
Duka lara hati ini tak
mungkin dapat ku pungkiri
Meskipun kerap deraian air
mata tak mampu ku bendung selalu
Semoga dengan tulisan ini
kau dapat tahu tentang rasaku
Kau sang cinta
Ku tatap mentari sore yang
kian bersembunyi dari peraduannya, tugasnya telah usai. Senja itupun mulai
berganti malam seiring berjalannya sang waktu. Hangatnya sang mentari kini
digantikan oleh Dewi bulan ditemani ribuan bintang dilangit.
“Deff,
aku masih menunggumu datang, aku yakin saat ku buka mataku nanti kau akan ada
di sampingku”
Ku mencoba memejamkan mata,
berharap Sang Pangeran akan segera datang.
***
Ku buka mataku perlahan.
Terlihat samar-samar sosok lelaki tengah duduk di kursi samping tempat tidur,
ia sedang tertidur dengan kepala bersandar pada tepian tempat tidur. “Deff!
Kamu Deff???” suaraku seperti hilang, sia-sia tak ada satupun suaraku yang
keluar. “Apa aku bermimpi? Tidak! Dia benar Deff” Tubuhku masih terasa sangat
lemas, aku hanya bisa menatap Deff. Beberapa menit kemudian Deff terbangun, aku
hanya bisa terdiam dan tetap menatap Deff dengan lelehan air mata di setiap
pipiku.
“Ara, kamu sudah bangun
ternyata. Maaf kemarin aku sangat kasar kepadamu, bahkan mencoba menghindarimu.
Maaf juga karena aku kamu harus masuk Rumah Sakit. Aku baru bisa datang,
kemarin malam aku baru mendapat kabar dari temanmu”
“Deff, akhirnya kamu datang.
Aku tahu kamu pasti akan datang menemuiku. Tidak Deff, ini semua bukan salahmu.
Terimakasih kamu sudah mau menjengukku” ucapku lirih namun lenyap begitu saja diantara udara
Deff menatap mataku, ia
tersenyum. Ya, senyuman yang selama ini aku rindukan kini hadir kembali.
Senyuman yang bisa membawa semangat untukku.
***
Sejak pulang dari Rumah
Sakit, ibu memperketat kegiatanku. Aku tidak boleh terlalu banyak kegiatan.
Bahkan untuk sekedar jalan-jalan saja aku harus di temani.
Pagi ini aku akan berangkat
ke sekolah meski kondisiku masih lemah. Aku benar-benar rindu pada sekolah ini.
Banyak kenangan yang tertinggal. Termasuk dia, sang cinta yang bersemi kala
waktu mempertemukan kita. Andai waktu bisa terulang, aku ingin berhenti di masa
itu. Masa dimana hanya ada aku dan Deff, berdua menikmati senja dan berjalan
bersama di bawah derasnya hujan. Kenangan yang tak akan bisa mudah hilang dari ingatanku.
Ku lewati setiap lorong dan
setiap sudut ruang sekolah. Aku tersenyum saat melewati setiap tempat yang
biasa aku dan Deff singgahi. Bayangan masa itu seperti diputar kembali oleh
otakku. Terekam jelas masa itu. Sangat manis.
Komentar
Posting Komentar