Bersamamu kulewati lebih dari seribu malam
Bersamamu yang ku mau namun kenyatannya tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan izinkan aku untuk
mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya biar cinta hidup
sekali ini saja
Tak sanggup bila harus jujur hidup tanpa hembusan nafasmu
Tuhan bila waktu dapat ku putar kembali sekali lagi untuk
mencintanya
Nyanyian itu terdengar dari
bibir manis Deff. Nyanyian yang ditemani petikan gitar hadiah dari seseorang
yang amat dia sesalkan kepergiannya, lirik yang mengisyaratkan sebuah perasaan
yang saat ini sedang tergores luka. Clara Ananda, seseorang yang sudah lama
mengisi relung hatinya kini sudah benar-benar pergi menjauh, ia terbang bersama
sang malaikat ke atas sana. Meninggalkan segala hal yang membuat hatinya lelah.
Tenang dengan kehidupan barunya. Ia tak perlu menahan rasa sakitnya lagi.
Perih, sakit, menyesal semua
yang saat ini dia rasakan. Sesak memang, ia hanya bisa melamun dan mengenang
semua tentang cerita cinta mereka yang belum sempat waktu izinkan untuk dibuka.
Berkali-kali dia membaca dan
membolak-balik catatan dibuku yang biasa menemani Ara. buku yang memuat semua
kisahnya dengan Ara. Dihalaman terakhir tertulis sebuah catatan
Apa kabarmu Deff? Aku hanya
ingin menyampaikan satu hal yang mungkin tidak begitu penting untukmu. Tapi ini
penting untukku.
Aku menyayangimu. Tubuhku
seperti disuntik semangat oleh hadirnya dirimu. Hari-hariku kembali berwarna.
Aku pun tak pernah memikirkan sakitku saat aku ada di dekatmu. Dan aku bahagia
karenamu.
Deff, aku sangat senang bisa
mengenalmu. Terlebih bisa dekat denganmu. Mungkin aku merasa sangat beruntung
karena Tuhan telah mendekatkanku dengan orang sepertimu. Ya walaupun aku tidak
bisa memilikimu.
Aku berikan kedua mataku ini
untuk hadiah ulang tahunmu Deff. Aku tak mau melihat seseorang yang sangat aku
sayangi masih berbaring menunggu pendonor mata, sedangkan ulang tahunmu tak
lama lagi. Aku minta satu darimu Deff, ini permintaan terakhirku. Jaga mataku
baik-baik ya, dan aku minta jangan gunakan mataku untuk menangisi ku. Aku lelah
Deff, aku tak mau mataku menangis lagi. Apalagi aku sering menangis karenamu.
Ini tulisan terakhirku
untukmu Deff, maaf aku tak bisa menemanimu lebih lama. Mungkin kamu tak akan
peduli denganku. Tapi taukah kamu Deff? Disetiap doaku tak pernah lupa ku sebut
namamu Deff, karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Jaga diri baik-baik ya
disana
With Love, Clara Ananda
“Ara,
aku ingin kamu kembali. Akan ku ulangi lagi kisah kita yang sempat ku hancurkan
Ra. Aku janji akan menjaga matamu dengan baik Ra, tapi maaf aku tak bisa
berhenti untuk tak menangisimu. Ini terlalu sakit Ra. Aku memang bodoh telah
menjauhimu, telah menyianyiakan kehadiranmu, dan telah mencoba menghindarimu.
Aku sangat mencintaimu Ra, aku menjauhimu karena aku tak ingin kamu tahu Ra”
Catatan terakhir itu membuat
hati Deff semakin remuk. Andai saja Deff tak mengalami kecelakaan yang membuat
ia harus mencari pendonor mata mungkin saat ini ia masih bisa bersama-sama
dengan gadis yang sangat ia cintai.
“Aku
tahu Ra, kamu sakit dan waktumu tak lama lagi.. Kau telah mengorbankan
hidupmu untukku”
Air mengalir dari mata Deff
melewati pipi dan berakhir menjadi titik tetesan yang membuat catatan Ara
basah.
Hujan turun dengan derasnya,
Deff berjalan menuju sebuah taman yang biasa mereka berdua datangi. Dibawah
pohon cinta, terkubur sosok gadis cantik yang merelakan hidupnya untuk lelaki yang
sangat dicintainya. Dia terkubur bersama harapan dan cintanya. Sebuah pohon
yang menjadi saksi cinta mereka yang dipisahkan oleh sang waktu. Ara sendiri yang
meminta agar ia dimakamkan ditaman yang biasa menemaninya dan Deff.
Deff menangis dibawah pohon
itu. Air matanya bercampur dengan air hujan. turun tetesan air bersama hatinya
yang hancur. Leleh bersama gundukan tanah yang mengubur tubuh gadis cantik itu.
Deff mengubur sebuah botol
kecil yang didalamnya ia tuliskan surat tentang perasaannya kepada Ara. botol
itu dikubur disebelah tempat terakhir Ara berbaring.
Ia tertunduk dengan lelehan
air mata menatap kenyataan yang ada dihadapannya. Kenyataan yang harus ia
terima. Kini ia sendiri, gadis yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan
hidupnya telah pergi meninggalkannya.
“Tunggu aku disana Ra, aku akan datang
menemanimu. Kau tak akan sendiri. Aku akan selalu mendoakanmu Ra. Aku
mencintaimu Clara Ananda”
Komentar
Posting Komentar