Langsung ke konten utama

CATATAN AKHIR SEKOLAH #5



“Mulai sekarang, kamu harus bisa tanpa Deff Ra! Jangan lemah begini! Tak mungkin kamu seperti ini terus!”
Kata-kata yang sering ku ucapkan sekedar untuk memberi semangat diriku sendiri. Kata-kata yang meyakinkan, tapi aku sendiri tak yakin dengan kata-kata itu.
Ku ambil kotak musik pemberian Deff. Manis. Sangat manis masa-masa itu. Ku buka buku bersampul Minnie Mouse, seperti biasa tanganku mulai menari diatasnya
Terkadang bibir dan hati tidak ada keselarasan diantara keduanya. Munafik! Bibirku memang berkata “Tidak!” tapi hatiku selalu berkata “Ya”. Memang kadang munafik itu perlu untukku. Cukup untuk membohongi semua perasaan sesak yang seringkali ku rasakan.
***
Ku ambil ponsel yang sudah seharian ku letakkan dalam laci belajarku
“14.12 WIB 5 Panggilan Tak Terjawab
“Mamanya Deff? Ada apa tante Mira sampai menelfonku??” Pikiranku langsung tertuju pada Deff. “Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Deff?”
Segera aku menelfon kembali tante Mira. Tak ada jawaban. Ku coba berkali-kali tapi tetap tante Mira tak mengangkat telfonku. Aku mencoba menghubungi Deff, tapi sama saja. Aku mencoba tak panik. Tanpa pikir panjang aku langsung ke rumah Deff. Aku segera berlari menuju rumah Deff. Tak peduli seberapa banyak darah yang mengucur dari lubang hidungku.
***
Rumah Deff sangat sepi, sudah berkali-kali ku teriakkan nama Deff dari pintu gerbang tapi tak ada sahutan dari dalam. Tiba-tiba seorang ibu-ibu datang menghampiriku
 “Ara cari Deff ya?” Kata ibu-ibu itu. Memang sudah banyak yang mengenalku, apalagi aku sudah biasa datang ke rumah Deff.
“Ehh iya bu, ibu tahu Deff kemana? Kenapa rumahnya sepi? apa semua keluarga Deff pergi?”
“Hmm, kamu belum tahu ya? Tadi malam keluarga Pak Andre pergi ke rumah sakit. Ibu kurang tahu siapa yang sakit. Ibu permisi dulu ya” ucapan ibu itu membuat mataku terbelalak.
Setelah ibu itu pergi, aku langsung menuju rumah sakit. Aku takut, sangat takut. “Jangan Deff Tuhan! Aku mohon jangan Deff” kata ku dalam hati. Doa-doa tak hentinya ku panjatkan kepadaNya.
***
Ku jelajahi setiap lorong Rumah Sakit berharap segera ku temukan tanda-tanda keluarga Deff. Dari ruangan sebelah kanan, keluar seorang wanita cantik separuh baya dengan wajah dan mata yang sembab. Wanita cantik itu duduk di kursi depan ruangan dengan wajah masih menunduk dan air mata yang masih mengalir dipipinya. Tante Mira! Kenapa dia menangis? Jantungku mulai berdegup kencang, sangat kencang.
“Tante, kenapa tante menangis? Siapa yang sakit tante? Deffnya dimana?” ku hujani tante Mira dengan pertanyaan-pertanyaan panikku, masih banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan, ahh tapi rasanya sesak! Aku tak bisa terlalu mengintrogasi tante dalam keadaan seperti ini.
Berharap tante menjawab semua pertanyaanku, tapi jari telunjuk tante menunjuk pada ruangan didepan kami duduk sambil terus berurai air mata. Aku tak bisa berkata apa-apa. Badanku lemas seketika. Darah kembali mengucur dari hidungku. Segera ku tutupi hidungku dengan sapu tangan.
Ku langkahkan kaki ke dalam ruangan yang tadi ditunjuk tante Mira. Kaki ku sulit sekali untuk ku langkahkan, berat rasanya untuk tahu siapa yang sedang terbaring sakit didalam. “Jangan Deff Tuhan!”. Tak henti-hentinya aku berdoa kepadaNya.
Mataku terbelalak ketika melihat siapa yang dirawat disana
“DEFF!!” air mataku mengalir, dadaku sangat sesak.
***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NO BODY’S PERFECT

Hari ini, aku mendapat satu pelajaran berharga lagi. Sebuah perlajaran yang tak bisa di dapat ketika kita tak mau bergaul dengan orang lain. karena ketika bergaul dengan lingkungan sosial maka kita akan tahu pendapat orang lain mengenai diri kita. Kita tak mungkin bisa menilai diri kita sendiri secara sempurna. Dengan penilaian dari orang lain maka kita bisa memperbaiki diri kita, setidaknya bisa sedikit meminimalisir. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya. Namun, dibalik yang katanya “sempurna” itu selalu saja ada yang namanya kekurangan. Baik itu fisik maupun psikis. Meskipun dengan banyaknya kekurangan yang ada didalam diri seseorang, tidak seharusnya kita mencela kekurangan orang lain tersebut, terlebih yang berhubungan dengan fisiknya. Manusia itu mahluk ciptaan Allah, ia adalah sebaik-baiknya ciptaanNya. Akal, pikiran, bahkan nafsu. Sesempurna itu. Tapi jika kita mencela orang lain dengan fisiknya yang gendut misal, atau dengan ke...

Beda Logat yang Bikin Galau

Mungkin pengalaman seperti ini sering sekali, bahkan hampir semua Mahasiswa rantau yang berkuliah ditempat jauh mengalaminya. Mahasiswa rantau harus beradaptasi dengan berbagai hal baru yang ada ditempat tinggal baru tersebut. Contohnya saja seperti adaptasi dengan lingkungan, adat, bahasa maupun logat, dll. Banyak pengalaman baru yang akan didapat dari tempat perantauan. Tempat perjuangan hingga akhirnya bisa mendapat gelar dibelakang nama. Nyatanya tak semudah yang dibayangkan ketika harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru. Berdasarkan pengalaman pribadi, mungkin ini juga yang dirasakan oleh Mahasiswa perantau lainnya. Bahasa saya dengan bahasa mereka, anak anak asli kota rantau sama sama dengan bahasa jawa, hanya saja logat kami berbeda. Tak hanya logat, ternyata banyak kosa kata dari mereka yang tidak saya ketahui bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya, sehingga mau tidak mau harus bertanya Apa artinya kata ini? Apakah ini kata kata kasar? Tak jarang banyak dari...

CATATAN AKHIR SEKOLAH #1

Jarum pendek jam dinding kamar tepat berada di pukul 05.00 pagi. Ku buka mata perlahan, masih terasa sakit yang menyeluruh di kepalaku. aku lupa apa yang terjadi kemarin sore saat aku pulang sekolah, tiba-tiba saja aku sudah berada di kamarku. setelah beberapa menit aku menahan nyeri di kepalaku, rasa sakit itupun sedikit-sedikit mulai menghilang, aku tahu mungkin akan datang lagi sakit itu. Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi, ku bersihkan diri dengan air hangat. Darah ku seperti mengalir dari atas kepala menuju kaki saat air itu mengenai seluruh kepalaku. Ku ambil seragam putih abu-abu itu yang telah tergantung di tempat biasa aku menanggalkan seragam-seragam ku. segera ku tarik tas dari atas meja tapi secarik kertas berwarna merah muda jatuh dari atas tas. Kertas itu bertuliskan “Happy Valentine Day Ara”. aku kenal dengan tulisan tangan itu! Deff, itu pasti Deff!. Dari dalam tas, ada sekotak kado yang dipenuhi dengan warna merah muda. Ku buka bingkisan kado itu,   “kotak...