“Mulai
sekarang, kamu harus bisa tanpa Deff Ra! Jangan lemah begini! Tak mungkin kamu
seperti ini terus!”
Kata-kata yang sering ku
ucapkan sekedar untuk memberi semangat diriku sendiri. Kata-kata yang
meyakinkan, tapi aku sendiri tak yakin dengan kata-kata itu.
Ku ambil kotak musik
pemberian Deff. Manis. Sangat manis masa-masa itu. Ku buka buku bersampul
Minnie Mouse, seperti biasa tanganku mulai menari diatasnya
Terkadang
bibir dan hati tidak ada keselarasan diantara keduanya. Munafik! Bibirku memang
berkata “Tidak!” tapi hatiku selalu berkata “Ya”. Memang kadang munafik itu
perlu untukku. Cukup untuk membohongi semua perasaan sesak yang seringkali ku
rasakan.
***
Ku ambil ponsel yang sudah
seharian ku letakkan dalam laci belajarku
“14.12
WIB 5 Panggilan Tak
Terjawab”
“Mamanya
Deff? Ada apa tante Mira sampai menelfonku??” Pikiranku langsung
tertuju pada Deff. “Apa jangan-jangan ini
ada hubungannya dengan Deff?”
Segera aku menelfon kembali
tante Mira. Tak ada jawaban. Ku coba berkali-kali tapi tetap tante Mira tak
mengangkat telfonku. Aku mencoba menghubungi Deff, tapi sama saja. Aku mencoba
tak panik. Tanpa pikir panjang aku langsung ke rumah Deff. Aku segera berlari
menuju rumah Deff. Tak peduli seberapa banyak darah yang mengucur dari lubang
hidungku.
***
Rumah Deff sangat sepi,
sudah berkali-kali ku teriakkan nama Deff dari pintu gerbang tapi tak ada
sahutan dari dalam. Tiba-tiba seorang ibu-ibu datang menghampiriku
“Ara cari Deff ya?” Kata ibu-ibu itu. Memang
sudah banyak yang mengenalku, apalagi aku sudah biasa datang ke rumah Deff.
“Ehh iya bu, ibu tahu Deff
kemana? Kenapa rumahnya sepi? apa semua keluarga Deff pergi?”
“Hmm, kamu belum tahu ya?
Tadi malam keluarga Pak Andre pergi ke rumah sakit. Ibu kurang tahu siapa yang
sakit. Ibu permisi dulu ya” ucapan ibu itu membuat mataku terbelalak.
Setelah ibu itu pergi, aku
langsung menuju rumah sakit. Aku takut, sangat takut. “Jangan Deff Tuhan! Aku mohon jangan Deff” kata ku dalam hati.
Doa-doa tak hentinya ku panjatkan kepadaNya.
***
Ku jelajahi setiap lorong
Rumah Sakit berharap segera ku temukan tanda-tanda keluarga Deff. Dari ruangan
sebelah kanan, keluar seorang wanita cantik separuh baya dengan wajah dan mata
yang sembab. Wanita cantik itu duduk di kursi depan ruangan dengan wajah masih
menunduk dan air mata yang masih mengalir dipipinya. Tante Mira! Kenapa dia
menangis? Jantungku mulai berdegup kencang, sangat kencang.
“Tante, kenapa tante
menangis? Siapa yang sakit tante? Deffnya dimana?” ku hujani tante Mira dengan
pertanyaan-pertanyaan panikku, masih banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan,
ahh tapi rasanya sesak! Aku tak bisa terlalu mengintrogasi tante dalam keadaan
seperti ini.
Berharap tante menjawab
semua pertanyaanku, tapi jari telunjuk tante menunjuk pada ruangan didepan kami
duduk sambil terus berurai air mata. Aku tak bisa berkata apa-apa. Badanku
lemas seketika. Darah kembali mengucur dari hidungku. Segera ku tutupi hidungku
dengan sapu tangan.
Ku langkahkan kaki ke dalam
ruangan yang tadi ditunjuk tante Mira. Kaki ku sulit sekali untuk ku
langkahkan, berat rasanya untuk tahu siapa yang sedang terbaring sakit didalam. “Jangan Deff Tuhan!”. Tak
henti-hentinya aku berdoa kepadaNya.
Mataku terbelalak ketika
melihat siapa yang dirawat disana
“DEFF!!” air mataku
mengalir, dadaku sangat sesak.
***
Komentar
Posting Komentar