Ku tulis namamu di belakang
buku catatanku sebanyak aku bisa. Ada perasaan yang menggelora dan selalu ingin
menyeruak keluar. Aku tak tahu mengapa. Bahkan rasa itu terasa sangat hebat
saat aku berada di dekatmu.
Coba kau lihat di setiap
halaman belakang buku catatanku. Kau tidak akan menemukan namamu disana,
melainkan sebuah panggilan untukmu.
Hari ini terasa berbeda. Ya,
aku selalu mencuri-curi kesempatan untuk memandangi wajah Deff. Mungkin saat
ini hubungan kita masih renggang, dan aku hanya bisa memandanginya dari
kejauhan.
Dunia ini bukan hanya
milikku dan milikmu. Tapi ada mereka yang berada di dekatmu. Mereka yang
sekarang bisa membuatmu bahagia, mereka yang sekarang bisa membuatmu nyaman. Sedangkan
aku? Aku tak bisa berdekatan lagi denganmu. Mungkin aku hanya bisa menemanimu
dari satu titik yang jauh.
***
Terdengar suara merdu
milikmu dari taman. Ku lirik Deff diantara celah-celah jendela yang tertutup
gorden. Aku takut Deff tahu kalau aku memperhatikannya. Sebuah lagu yang
mengisyaratkan ucapan hati. Lirik demi lirik terdengar dari bibirmu.
“Seakan mataku tertutup, Ku
ingin cinta ini dapat kau sambut, Harapkan perasaan ini kau tahu, Sungguh ku
ingin kau jadi milikku”
Lirik yang romantis. Andai
lagu itu untukku, aku pasti akan jadi gadis paling bahagia. Dan, sesuatu itu
kembali. Rasa yang terjebak amat dalam mencoba keluar dari tempatnya. Bibirku
terkatup rapat saat matamu bertemu mataku.
Matamu itu bagai tombak yang
siap menusukku kapan saja. Terlalu tajam. Walaupun di dalam mata itu ada
kesejukan yang mungkin bisa aku rasakan. Aku berharap, aku dapat merasakan
masa-masa indah bersamamu lagi.
Aku duduk terdiam dibangku
dekat jendela. Pikiranku penuh sesak dengan Deff. Kubuka sedikit tirai dan
jendela kelas. Masih terdengar suara nyanyian Deff. Tapi semakin lama semakin
terdengar samar-samar suara Deff. Aku semakin masuk kedalam lamunanku tentang
Deff. Aku terseret jauh, terjebak dalam perasaan itu lagi.
Aku terbangun dari mimpi
itu. Aku baru tersadar tentang kejadian di rumah sakit kemarin. Aku hanya
bermimpi indah sesaat. Bermimpi sang pangeran datang menjengukku dengan sebuah
senyum manis dibibirnya. Itu hanya ilusi. Aku terlalu berambisi.
Bahkan setelah aku keluar
dari rumah sakit, Deff bukan malah mendekat, tapi ia semakin menjauhiku. Ya,
aku tahu aku hanya sebatas temannya, tak lebih. Harusnya aku sadar, aku tak
boleh berharap lebih kepadanya. Aku takut merasakan harapan kosong itu. Harapan
yang akhirnya akan dihempaskan oleh angin, lalu hilang diantara awan-awan.
***
Sore disebuah taman. Ku langkahkan
kaki menginjakkan rumput diseluruh sudut-sudut taman yang biasa kami datangi.
Disebelah kanan taman ada satu pohon besar. Aku dan Deff pernah mengukir nama
kami dibatang pohon itu. DAVE DAN ARA. Sebuah ukiran nama dan kenangan di
sebatang pohon cinta.
Dulu
selalu ada waktu untuk kita
Kini ku
sendiri
Dulu
kata cinta tak habis tercipta
Kini
tiada lagi
Sedang
apa dan dimana dirimu yang dulu ku cinta
Ku tak
tau tak lagi tau seperti waktu dulu
Apakah
mungkin bila kini ku ingin kembali menjalani janji hati kita
Ku senandungkan syair lagu
yang mewakili perasaanku saat ini. Lagu yang ku nyanyikan bersama petikan gitar
ditemani hembusan angin di taman. Dedaunan yang gugur ikut terbang tersapu
angin.
Mataku menatap ke atas awan
tempat sekelompok burung terbang. Burung-burung itu mengepakkan sayap-sayap
mereka dan ikut menyenandungkan nyanyiannya disore hari.
Komentar
Posting Komentar