Jarum pendek jam dinding kamar
tepat berada di pukul 05.00 pagi. Ku buka mata perlahan, masih terasa sakit
yang menyeluruh di kepalaku. aku lupa apa yang terjadi kemarin sore saat aku
pulang sekolah, tiba-tiba saja aku sudah berada di kamarku. setelah beberapa
menit aku menahan nyeri di kepalaku, rasa sakit itupun sedikit-sedikit mulai
menghilang, aku tahu mungkin akan datang lagi sakit itu. Ku langkahkan kaki ku
menuju kamar mandi, ku bersihkan diri dengan air hangat. Darah ku seperti mengalir
dari atas kepala menuju kaki saat air itu mengenai seluruh kepalaku.
Ku ambil seragam putih
abu-abu itu yang telah tergantung di tempat biasa aku menanggalkan
seragam-seragam ku. segera ku tarik tas dari atas meja tapi secarik kertas berwarna
merah muda jatuh dari atas tas. Kertas itu bertuliskan “Happy Valentine Day
Ara”. aku kenal dengan tulisan tangan itu! Deff, itu pasti Deff!. Dari dalam
tas, ada sekotak kado yang dipenuhi dengan warna merah muda. Ku buka bingkisan
kado itu, “kotak musik! Deff memberiku
kotak musik!” pipiku terlihat mulai mengembang. Deff memang hanya sebatas teman
biasa, tapi aku rasa kita tak pantas
disebut sebagai ‘teman’, karna kami memang terlalu dekat sebagai teman. Aku
merasa sangat nyaman didekatnya.
“Ra, udah selesai? Sarapan
sama minum obat dulu, jangan langsung berangkat” terdengar suara ibu dari luar
kamar membuyarkan lamunanku tentang Deff, ibu memang selalu mengatur jadwal
makan dan minum obatku.. “Iya bu, bentar lagi” segera ku simpan kertas dan
kotak merah muda itu di laci meja. Aku melangkah keluar kamar tapi tiba-tiba
terdengar suara motor matic yang berhenti didepan rumah. “Deff??” gumamku. Aku
bisa tahu jelas suara motor Deff. Aku berlari ke ruang tamu untuk memastikan
itu Deff. Ternyata benar Deff. Selepas makan dan meminum obat, aku segera
berpamitan untuk berangkat.
Aku dan Deff pun berangkat
bersama. Di setiap jalan yang kami lewati, pipi ku selalu mengembangkan
senyuman. “Deff, makasih ya kemaren kamu udah mau tolongin aku, ehhm makasih
juga kado dari kamu”
“yaa kita kan memang
harusnya saling bantu Ra, masa’ ya aku tega lihat kamu pingsan di jalan. iya
Ra, aku sengaja beli itu buat kamu” kata Deff dengan senyum manisnya yang dapat
terlihat jelas dari kaca spion motor. Aku melihat senyum tulus Deff, aku ikut
tersenyum, bukan karna ucapan Deff tadi, tapi karena aku bersyukur masih dapat
melihat senyum manis Deff.
‘Tuhan, aku harap waktu ini
juga dapat ku hentikan, aku ingin saat-saat seperti ini terus berlanjut Tuhan,
sebelum aku tak bisa merasakan ini lagi, biarkan dia tetap disini, tetap
bersama ku’ kata ku dalam hati. Aku memang tak berani menyampaikan apa yang
harusnya ku sampaikan kepada Deff, aku takut dia malah akan menjauhiku. Aku
hanya dapat berdoa untuknya dan tetap menunggu senyumannya walaupun dalam
keadaan seperti ini.
Sampai di parkiran motor
sekolah ..
“Ra, kamu kenapa ? kok diam?
Oh iya, nanti pulang bareng ya?”
“Ehh Deff aku baik-baik aja
kok. Boleh”
Aku dan Deff berjalan
berlawanan arah, kelas ku dan Deff memang berbeda, dia setingkat lebih tinggi
daripada aku.
***
Malam ini, hujan turun lagi
seperi malam-malam yang kemarin. Bisa ku rasa dingin air hujan itu. Tanpa sadar,
memori otakku kembali mengingat kejadian tadi sore saat aku dan Deff pulang
sekolah dengan menerjang hujan, Deff rela hujan-hujanan untuk menemaniku dan
mengantarku pulang. Seperti biasa mulai ku buka buku merah muda yang setiap
malam menemaniku, ku tulis apa yang ingin ku tuliskan.
Mungkin aku tak punya
kata-kata indah yang bisa ku sampaikan untukmu, sang dewa cinta. Aku memang tak
pandai merangkai kata-demi kata untukmu. Tapi semoga kelak kau tahu, aku tak
ingin kita berpisah, aku tak ingin kita terpisahkan ruang dan waktu, ruang yang
dimana sebuah perbedaan tak dapat disatukan lagi dan dimensi waktu yang telah berbeda. Biarkan aku tetap bersamamu,
menuliskan kisah kita.
Sang cinta, aku harap kau
juga merasa apa yang ku rasakan padamu.
Aku mencintaimu Deff.
Aku merasakan sesak yang
memenuhi rongga dadaku, sesak karena perasaanku untuknya yang selalu ingin
menyeruak keluar namun ku tahan. ku tutup buku merah muda yang penuh dengan
coretan namanya. Sesaat kemudian aku terlelap dengan ditemani rintik hujan yang
sedari sore masih terus mengalir dari atas awan sana.
Fighting 😉. I will always support you. Never give up! Ok 😃
BalasHapus